Kota Bandung






Bandung menyambutku dengan keindahannya yang teduh dan bersahaja. Kota ini dipenuhi bangunan-bangunan klasik peninggalan masa kolonial, berdiri anggun di antara pepohonan yang rimbun, seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Meski ini adalah perjumpaanku yang pertama dengan Bandung, ada rasa akrab yang sulit dijelaskan, seperti bertemu seorang kawan lama setelah lama terpisah. Suasananya menumbuhkan nostalgia, meski kenangan itu sebenarnya belum pernah benar-benar kumiliki.


Namun, keindahan itu tidak sepenuhnya tanpa cela. Di beberapa sudut, Bandung tampak kurang terawat, sampah berserakan di pinggir jalan, daun-daun kering menumpuk, serta coretan grafiti yang mengotori dinding-dinding kota. Semua itu menjadi kontras yang jujur, seakan mengingatkan bahwa setiap kota, seindah apa pun, selalu menyimpan sisi rapuhnya sendiri.


Warung-warung makan berjajar di berbagai sudut, berkumpul dalam satu kawasan. Ada yang ramai oleh tawa dan obrolan, ada pula yang sunyi dalam kesederhanaannya. Ada yang tampak mewah, ada yang bersahaja, namun semuanya hidup dalam denyut yang sama, denyut sebuah kota yang terus bergerak.


Bandung terasa ramai, tetapi anehnya tetap tenang. Ketika mataku menangkap pejalan kaki, pengendara motor yang terjebak macet, atau seseorang yang duduk diam di pinggir jalan, muncul rasa penasaran di dalam hati. Seberapa keras kehidupan yang mereka jalani di kota ini? Apakah ada beban kesedihan yang mereka simpan, ataukah perasaan itu hanya datang dari hatiku yang terlalu mudah larut? Barangkali, dalam tatapan singkat itu, mereka pun bertanya hal yang sama tentang diriku, tentang sekeras apa hidup seorang pendatang dari kampung.


Jantung Kota Bandung mengingatkanku pada Jalan Gajah Mada di Kota Palu. Deretan toko besar dengan bangunan tua berdiri seolah dibiarkan menua tanpa perawatan. Justru dari situlah kesan nostalgia kian menguat, seakan waktu enggan melangkah dan memilih berhenti sejenak di tempat ini.


Perjalanan pertamaku ke Bandung juga menjadi perkenalan pertamaku dengan masakan khas Sunda, langsung dari tanah kelahirannya. Banyak hal baru yang kutemui leunca, tespong, kenikir, selada air goreng, hingga sambal dadak. Rasanya unik, jujur saja tidak semuanya bersahabat dengan lidahku, mungkin karena aku belum terbiasa. Di sini, teh tawar hangat lebih dipilih daripada air putih, bahkan teh langsung terhidang di meja, sementara air putih harus diminta terlebih dahulu. Ada hidangan Sunda yang kusukai, karedok, batagor, dan soto Bandung, namun izinkan aku berkata dengan jujur, sambal leunca, maaf, belum bisa kuterima, Bu Imas.


Sayangnya, perjalanan ini bukanlah liburan. Ini adalah perjalanan dinas, di mana langkahku dibatasi tugas dan waktu. Aku tidak bebas menentukan ke mana harus pergi atau apa yang ingin kulakukan, aku hanya mengikuti atasan dan menjalankan kewajiban. Maka, semua yang kutuliskan ini hanyalah pandangan mentah seorang pendatang, seorang “orang kampung” yang memandang Bandung dengan rasa kagum yang sederhana.


Barangkali, suatu hari nanti, aku akan kembali ke kota ini bersama keluargaku, bukan untuk bekerja, melainkan untuk menciptakan kenangan. Kenangan yang kelak bisa kami buka kembali, untuk dinostalgikan di kemudian hari, di Bandung, kota yang diam-diam telah menorehkan kesan dalam ingatan.

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Kematian

Tende