Parigi, nasibmu kini
Parigi adalah kota kecil yang tenang. Kota yang tahu caranya bersantai, di tepi pantai, di lereng gunung, di antara jeda hidup yang tidak tergesa. Seingatku, orang-orang di sini tak hidup dengan ambisi yang berisik. Kami hidup sederhana, apa adanya. Berkebun di gunung, bertani di dataran, melaut di laut. Apa yang kami dapatkan tak pernah berlebih, tapi juga tak pernah kurang. Selalu cukup. Cukup untuk makan, cukup untuk hidup, cukup untuk merasa pulang.
Namun kini, kota ini terasa semakin asing.
Wajah-wajah yang dulu akrab, yang beberapa waktu lalu tersenyum dari baliho calon pemimpin, kini duduk berdampingan dengan orang-orang asing. Bahasa yang mereka gunakan bukan lagi bahasa kami. Mandarin terdengar lebih sering daripada cerita tentang sawah, kebun, atau laut. Yang dibahas bukan lagi soal hidup, melainkan tambang. Tambang emas. Lubang-lubang yang akan menganga di tanah yang dulu kami jaga.
Parigi yang kukenal, kota santai yang bersahaja itu, perlahan kehilangan wajahnya sendiri. Di depan mataku, tanah ini seperti sedang ditawarkan, dijual habis-habisan. Dihitung bukan sebagai rumah, tapi sebagai potensi. Diraba bukan dengan tangan yang merawat, melainkan dengan tangan yang serakah.









Comments
Post a Comment