Menghakimi Luka dengan Amarah
Setiap kali bumi Palu bergetar, ada dua hal yang ikut bergerak, tanah di bawah kaki kita, dan perasaan di dalam dada kita. Bagi masyarakat Palu, gempa bukan sekadar berita. Ia adalah ingatan, trauma, kehilangan, dan doa yang belum pernah benar-benar selesai. Karena itu, ketika muncul polemik yang mengaitkan ritual adat sebagai penyebab bencana, kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk saling membungkam, tetapi untuk menenangkan hati sebelum lidah kita melukai orang lain. Secara ilmu kebumian, Lembah Palu memang berada di wilayah yang memiliki risiko gempa. Peristiwa besar 28 September 2018, misalnya, dicatat USGS sebagai gempa magnitudo 7,5 yang terjadi di dekat Palu. Kajian tsunami internasional juga menjelaskan gempa itu berkaitan dengan aktivitas sesar geser yang diduga kuat berada pada sistem Sesar Palu-Koro. Bahkan gempa kuat kembali terjadi di sekitar Palu pada 16 Juni 2026, dengan laporan BMKG yang dikutip Reuters menyebut pusat gempa berada sekitar 42 kilometer tenggara Palu...