Menghakimi Luka dengan Amarah


Lukisan Siga


Setiap kali bumi Palu bergetar, ada dua hal yang ikut bergerak, tanah di bawah kaki kita, dan perasaan di dalam dada kita. Bagi masyarakat Palu, gempa bukan sekadar berita. Ia adalah ingatan, trauma, kehilangan, dan doa yang belum pernah benar-benar selesai.

Karena itu, ketika muncul polemik yang mengaitkan ritual adat sebagai penyebab bencana, kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk saling membungkam, tetapi untuk menenangkan hati sebelum lidah kita melukai orang lain.

Secara ilmu kebumian, Lembah Palu memang berada di wilayah yang memiliki risiko gempa. Peristiwa besar 28 September 2018, misalnya, dicatat USGS sebagai gempa magnitudo 7,5 yang terjadi di dekat Palu. Kajian tsunami internasional juga menjelaskan gempa itu berkaitan dengan aktivitas sesar geser yang diduga kuat berada pada sistem Sesar Palu-Koro. Bahkan gempa kuat kembali terjadi di sekitar Palu pada 16 Juni 2026, dengan laporan BMKG yang dikutip Reuters menyebut pusat gempa berada sekitar 42 kilometer tenggara Palu pada kedalaman 10 kilometer dan tidak berpotensi tsunami.

Artinya, kita tidak bisa secara sederhana menyimpulkan bahwa sebuah ritual adat adalah penyebab mutlak bencana alam. Terlalu berat tuduhan itu. Terlalu mudah pula kita menghakimi sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya kita pahami.

Namun, di sisi lain, agama juga mengajarkan manusia untuk tidak melampaui batas. Bencana, musibah, dan kemalangan dapat menjadi ruang renungan bagi siapa saja. Bukan untuk menunjuk hidung orang lain, tetapi untuk menundukkan kepala kita sendiri. Barangkali yang perlu diperiksa bukan hanya adat orang lain, tetapi juga cara kita memperlakukan alam, sesama manusia, makhluk hidup, dan amanah yang Tuhan titipkan.

Ritual adat adalah bagian dari perjalanan panjang suatu masyarakat. Di Tanah Kaili, adat bukan sekadar seremoni. Ia menyimpan ingatan, penghormatan, doa, dan hubungan manusia dengan tanah kelahirannya. Bagi sebagian orang, bentuk ritual itu mungkin tidak sejalan dengan pemahaman agamanya. Tidak apa-apa. Kita boleh memiliki keyakinan masing-masing. Tetapi perbedaan keyakinan tidak memberi kita hak untuk menghina, merendahkan, apalagi menjadikan suatu kelompok sebagai kambing hitam atas bencana.

Dalam kehidupan yang beragam, kita perlu belajar membedakan antara memegang teguh iman dan menyerang martabat orang lain. Ada batas yang harus dijaga. Kita boleh tidak sepakat, tetapi tetap harus beradab. Kita boleh meyakini sesuatu sebagai keliru menurut agama kita, tetapi tidak harus mengubah keyakinan itu menjadi cercaan di ruang publik.

Sebab kalau semua perbedaan ibadah dijadikan alasan untuk menuduh datangnya bencana, maka pertanyaannya menjadi tidak adil. Saudara-saudara kita dari agama lain juga memiliki cara berdoa, beribadah, dan menjalankan ritual sesuai keyakinannya. Apakah pantas kita menuduh mereka sebagai penyebab gempa? Tentu tidak. Di sinilah makna saling menghargai menjadi penting. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Kita hidup berdampingan bukan karena semua harus sama, tetapi karena kita sepakat untuk saling menjaga.

Begitu juga dengan adat. Di Kalimantan, misalnya, masyarakat Dayak memiliki ritual adatnya sendiri. Di banyak daerah lain pun begitu. Nusantara ini kaya dengan tradisi. Namun tidak semua daerah mengalami gempa sesering Palu. Ini menunjukkan bahwa bencana alam tidak bisa dibaca hanya dengan kacamata prasangka. Ada faktor alam, geologi, tata ruang, kesiapsiagaan, dan perilaku manusia terhadap lingkungan yang semuanya perlu dilihat dengan jernih.

Saya pribadi menghormati adat di tanah kelahiran saya, Tanah Kaili. Tetapi penghormatan itu tidak membuat kita menutup mata terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki. Jika dalam pelaksanaan ritual ada tindakan terhadap hewan yang terlihat menyakitkan, kasar, atau tidak manusiawi, maka sudah sepantasnya kita menyampaikan keprihatinan. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan nasihat yang baik.

Hewan juga makhluk ciptaan Tuhan. Jika harus ada penyembelihan dalam adat atau keagamaan, lakukanlah dengan cara yang beradab, bersih, cepat, dan tidak menyiksa. Manusia diberi akal dan perasaan bukan untuk menunjukkan kuasa secara semena-mena, tetapi untuk menjaga agar setiap tindakan tetap berada dalam batas kemanusiaan.

Pada akhirnya, polemik ini seharusnya tidak membuat kita saling menjauh. Justru ia bisa menjadi cermin. Bagi pemuka adat, ini ruang untuk memastikan tradisi tetap dijalankan dengan penuh martabat dan kasih terhadap makhluk hidup. Bagi pemuka agama, ini ruang untuk mengajak umat menasihati tanpa merendahkan. Bagi masyarakat, ini ruang untuk belajar bahwa tidak semua hal harus ditanggapi dengan amarah.

Palu sudah cukup banyak menyimpan luka. Jangan kita tambah luka itu dengan saling tuduh. Jika bumi bergetar, mari kita kuatkan doa, perbaiki diri, tingkatkan kesiapsiagaan, dan rawat persaudaraan. Sebab setelah bencana, yang paling kita butuhkan bukan siapa yang paling benar, tetapi siapa yang mau saling menguatkan.

Comments

Popular posts from this blog

Bukan Soal Jabat Tangan, Tapi Soal Masa Depan Lingkungan

Pohon Tua dan Tamparan bagi Sistem Pelayanan Publik Kita