Bukan Soal Jabat Tangan, Tapi Soal Masa Depan Lingkungan
Sekelompok mahasiswa tampan dan berani dengan lugas menolak jabat tangan dari pimpinan daerah di tengah aksi protes lingkungan. Kalau dilihat dari sudut pandang kehumasan, tawaran jabat tangan itu sebenarnya adalah momen visual yang sangat bagus. Bayangkan betapa manisnya adegan itu jika berhasil dimasukkan ke konten medsos, sayangnya, para demonstran ini sepertinya paham betul bahwa mereka sedang tidak berada di acara ramah tamah. Mereka menolak memberikan 'bahan konten' gratisan sebelum substansi tuntutan soal kerusakan lingkungan direspons dengan jelas.
Lucunya, solusi dari tuntutan kerusakan lingkungan terkait aktivitas tambang di Lingadan, Malempa, Oyom, dan Basidondo tersebut bukanlah dengan penelusuran atau penindakan hukum, melainkan dengan mempercepat proses legalisasinya.
Bukannya menghentikan dan memberantas, pemerintah malah ingin memberikan kartu pass resmi kepada para pelaku perusakan alam di Sulawesi Tengah ini.
Menolak jabat tangan bukanlah inti persoalannya. Yang lebih penting adalah pesan di balik tindakan itu adalah keresahan yang ingin didengar lebih serius. Sebab lingkungan yang rusak tidak bisa diperbaiki dengan konten ramah tamah, dan kepercayaan publik tidak tumbuh hanya dari kata-kata yang terdengar menenangkan.
Pada akhirnya, di pengujung hari, Mahasiswa datang dan pergi, pejabat-pejabat silih berganti. Tetapi keberanian untuk mengingatkan penguasa agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat adalah tradisi yang seharusnya tidak boleh mati. Dan untuk itu, keberanian para mahasiswa Tolitoli layak mendapat apresiasi.

Comments
Post a Comment