Posts

Parigi, nasibmu kini

Image
Parigi adalah kota kecil yang tenang. Kota yang tahu caranya bersantai, di tepi pantai, di lereng gunung, di antara jeda hidup yang tidak tergesa. Seingatku, orang-orang di sini tak hidup dengan ambisi yang berisik. Kami hidup sederhana, apa adanya. Berkebun di gunung, bertani di dataran, melaut di laut. Apa yang kami dapatkan tak pernah berlebih, tapi juga tak pernah kurang. Selalu cukup. Cukup untuk makan, cukup untuk hidup, cukup untuk merasa pulang. Namun kini, kota ini terasa semakin asing. Wajah-wajah yang dulu akrab, yang beberapa waktu lalu tersenyum dari baliho calon pemimpin, kini duduk berdampingan dengan orang-orang asing. Bahasa yang mereka gunakan bukan lagi bahasa kami. Mandarin terdengar lebih sering daripada cerita tentang sawah, kebun, atau laut. Yang dibahas bukan lagi soal hidup, melainkan tambang. Tambang emas. Lubang-lubang yang akan menganga di tanah yang dulu kami jaga. Parigi yang kukenal, kota santai yang bersahaja itu, perlahan kehilangan wajahnya sendiri. Di...

Seni "Tende": Sebuah Refleksi Budaya Palu dan Hikmah Al-Fatihah

Image
  Kita mungkin sepakat pada satu hal, Tende adalah bahasa cinta orang Palu. Ia adalah pujian, apresiasi, dan jembatan komunikasi. Namun, pernahkah terlintas di benak kita bahwa struktur komunikasi dalam budaya tende ini ternyata memiliki keselarasan dengan pola doa yang diajarkan Tuhan? ​Mari sejenak kita merenungi Surah Al-Fatihah. ​Dalam Ummul Kitab ini, Allah mengajarkan manusia sebuah "protokol" langit tentang tata krama dalam meminta. Sebelum sampai pada inti permintaan, ada adab yang harus didahulukan. ​Perhatikan alurnya yang begitu indah: ​Ayat Pertama (Bismillah): Kita memulainya dengan menyebut nama Allah. Sebuah fondasi bahwa segala sesuatu bermula dari-Nya. ​Ayat Kedua (Alhamdulillah): Kita diajarkan bersyukur dan memuji Allah sebagai Tuhan semesta alam. ​Ayat Ketiga (Ar-Rahman Ar-Rahim): Pujian itu berlanjut, mengakui sifat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. ​Ayat Keempat (Maliki Yaumiddin): Kita kembali mengagungkan-Nya sebagai Penguasa Hari Pembalasa...

Tentang Kematian

Image
Tak ada guru yang lebih jujur daripada kematian. Ia datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi menyadarkan. Rasanya seperti disentil pelan, diingatkan bahwa kita ini sebenarnya kecil. Tidak sehebat yang kita kira, tidak sekuat yang kita duga. ​Hidup, pada akhirnya, hanyalah soal berkemas. Kita cuma sedang mengumpulkan bekal untuk perjalanan panjang berikutnya. Jalurnya pun kita sendiri yang pilih, mau lewat jalan yang lapang atau jalan yang terjal. ​Tanggal 25 kini punya tempat tersendiri di kepalaku. Tanggal ini hari ulang tahunku, di tanggal ini anak pertamaku lahir, dan di tanggal ini pula ayah mertuaku berpulang. ​Skenario Tuhan memang di luar nalar. Ada yang datang, ada yang pulang. Di hari itu, Aku melihat bagaimana Allah menjemput orang yang disayang-Nya dengan cara yang begitu rapi. Hal ini membuatku dan kami yang ditinggalkan, tertegun. Kelak, saat giliran kita tiba, akankah kita juga dijemput dengan cara yang seindah itu?

Tende

Image
Jika Anda berkunjung ke Kota Palu, jangan kaget jika tiba-tiba merasa menjadi orang paling penting, paling ganteng, atau paling hebat sedunia. Tenang, Anda tidak sedang dihipnotis, Anda hanya sedang terkena jurus "Tende". ​Apa itu Tende? Tende adalah budaya unik masyarakat Kaili yang sudah mendarah daging di Kota Palu. Secara harfiah, ia adalah pujian. Namun dalam praktiknya, Tende adalah pujian halus yang dibalut humor hiperbolis, sedikit berlebihan, tapi enak didengar. ​Ini bukan sekadar basa-basi kaku. Tende adalah "pelumas" sosial. Ia dilakukan oleh orang yang sudah saling kenal untuk mencairkan suasana yang beku, menjalin keakraban, atau sekadar membuat lawan bicara tersenyum lebar.  Di Palu, Tende tidak pandang bulu. Mulai dari pejabat berdasi, pegawai kantoran, mahasiswa semester akhir, hingga Ina-Ina di pasar, semuanya fasih melakukan ini. ​Namun, hati-hati! Tende sering kali punya "udang di balik batu". ​Ingin urusan lancar? Tende dulu. Ingin posi...

Kota Bandung

Image
Bandung menyambutku dengan keindahannya yang teduh dan bersahaja. Kota ini dipenuhi bangunan-bangunan klasik peninggalan masa kolonial, berdiri anggun di antara pepohonan yang rimbun, seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Meski ini adalah perjumpaanku yang pertama dengan Bandung, ada rasa akrab yang sulit dijelaskan, seperti bertemu seorang kawan lama setelah lama terpisah. Suasananya menumbuhkan nostalgia, meski kenangan itu sebenarnya belum pernah benar-benar kumiliki. Namun, keindahan itu tidak sepenuhnya tanpa cela. Di beberapa sudut, Bandung tampak kurang terawat, sampah berserakan di pinggir jalan, daun-daun kering menumpuk, serta coretan grafiti yang mengotori dinding-dinding kota. Semua itu menjadi kontras yang jujur, seakan mengingatkan bahwa setiap kota, seindah apa pun, selalu menyimpan sisi rapuhnya sendiri. Warung-warung makan berjajar di berbagai sudut, berkumpul dalam satu kawasan. Ada yang ramai oleh tawa dan obrolan, ada pula yang sunyi dalam kesederhanaannya. Ad...