Seni "Tende": Sebuah Refleksi Budaya Palu dan Hikmah Al-Fatihah

 


Kita mungkin sepakat pada satu hal, Tende adalah bahasa cinta orang Palu. Ia adalah pujian, apresiasi, dan jembatan komunikasi. Namun, pernahkah terlintas di benak kita bahwa struktur komunikasi dalam budaya tende ini ternyata memiliki keselarasan dengan pola doa yang diajarkan Tuhan?

​Mari sejenak kita merenungi Surah Al-Fatihah.

​Dalam Ummul Kitab ini, Allah mengajarkan manusia sebuah "protokol" langit tentang tata krama dalam meminta. Sebelum sampai pada inti permintaan, ada adab yang harus didahulukan.

​Perhatikan alurnya yang begitu indah:

​Ayat Pertama (Bismillah): Kita memulainya dengan menyebut nama Allah. Sebuah fondasi bahwa segala sesuatu bermula dari-Nya.

​Ayat Kedua (Alhamdulillah): Kita diajarkan bersyukur dan memuji Allah sebagai Tuhan semesta alam.

​Ayat Ketiga (Ar-Rahman Ar-Rahim): Pujian itu berlanjut, mengakui sifat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

​Ayat Keempat (Maliki Yaumiddin): Kita kembali mengagungkan-Nya sebagai Penguasa Hari Pembalasan.

​Ayat Kelima (Iyya kana'budu...): Setelah rentetan pujian, barulah kita merendahkan diri. Kita mengakui ketidakberdayaan kita, bahwa hanya kepada-Nya kita menyembah dan meminta pertolongan.

​Lihat polanya? Pujian, Pengakuan Kebesaran, Merendahkan Diri.

​Barulah di ayat ke-6 dan ke-7 (Ihdinas Sirat...), kita memberanikan diri mengutarakan keinginan dan harapan kita, meminta petunjuk jalan yang lurus.

​Tanpa kita sadari, pola Ilahiah ini sering dipraktikkan masyarakat Palu dalam kehidupan sosial lewat budaya tende. Orang Palu paham betul bahwa untuk memuluskan negosiasi atau permohonan, hati seseorang harus disentuh terlebih dahulu dengan apresiasi.

​Jika disandingkan, begini kira-kira simulasi percakapannya:

​Pembuka & Syukur: "Ah, untung datang Komiu..."

​Tende 1 (Pujian): "...orang hebatnya Palu ini."

​Tende 2 & 3 (Mengangkat Derajat): "Saya lihat tambah ganteng Komiu, memang beda auranya orang banyak uang."

​Tende 4 (Hiperbolis): "Kayaknya betul Komiu ini yang pegang setengahnya Kota Palu."

​Merendahkan Diri: "Cuma sama Komiu saya berani minta tolong, karena cuma Komiu yang paham situasi ini."

​Setelah "ritual" 4-5 tende ini selesai dan suasana mencair, barulah masuk ke menu utama, Menyampaikan maksud dan tujuan.

​Ini bukan tentang manipulasi, melainkan tentang adab. Allah mengajarkan kita lewat Al-Fatihah bahwa sebelum meminta, kita perlu membangun kedekatan. Sebelum menuntut hak, kita perlu mengakui kebaikan pihak lain.

​Sejatinya, Al-Quran adalah Al-Hikmah. Di dalamnya terdapat pelajaran bagi mereka yang mau berpikir. Bahwa bahkan dalam urusan "melobi" sesama manusia di dunia pun, formulanya telah Allah titipkan dalam surat yang kita baca minimal 17 kali sehari itu.

​Ternyata, tende bukan sekadar basa-basi, melainkan cerminan kearifan lokal dalam memuliakan orang lain sebelum mengutarakan keinginan diri.

Comments

Popular posts from this blog

Bukan Soal Jabat Tangan, Tapi Soal Masa Depan Lingkungan

Pohon Tua dan Tamparan bagi Sistem Pelayanan Publik Kita

Menghakimi Luka dengan Amarah